Headline News

Meredam Gejolak, Merajut Silaturahmi: Kisah Pertemuan Warga Batak dan Madura Setelah Insiden Interchange Karawang


 

Jurnalis dan Editor: Johar Hasibuan

Azzamtvjabar.com | Karawang - Sore itu, suasana di sebuah rumah di Perumahan Grand Taruma terasa hangat. Dikediaman Lurah Wadas, Junaedi, sejumlah tokoh dari dua komunitas besar di Karawang duduk bersama. Tidak ada ketegangan, tidak ada nada tinggi, yang tersisa hanyalah keinginan untuk saling memahami dan menenangkan suasana, setelah sebuah video viral mengguncang hubungan antar keduanya.


Pertemuan itu bukan sekadar kumpul biasa. Ia adalah bagian dari upaya merapikan kembali kain persaudaraan yang sempat tersinggung akibat insiden saat penertiban bangunan liar di Jalan Interchange Karawang. Di tengah pertemuan itulah, Lesmana Saragih, pria yang videonya menjadi perbincangan, berdiri dan menundukkan kepala.


Dengan suara yang lebih pelan dari biasanya, Lesmana menyampaikan permintaan maaf dari lubuk hati terdalam. Ia mengakui bahwa emosinya kemarin telah membawanya pada pilihan kata yang tidak semestinya.


“Saya meminta maaf kepada warga Madura Karawang, kepada Gubernur Jawa Barat, kepada media, kepada semua pihak yang tersinggung,” ujarnya, terbata. “Saya khilaf. Terlalu terbawa emosi.”


Disampingnya, Ketua Umum Perkumpulan Masyarakat Batak Karawang, Holmen Siahaan, berdiri sebagai pendamping, sekaligus sebagai sosok yang mengupayakan agar suasana yang panas dapat kembali adem. Holmen mengatakan bahwa kehadirannya adalah wujud tanggung jawab moral untuk menjaga nama baik komunitas Batak di Karawang.




Holmen tak hanya membantu menyampaikan permintaan maaf, tetapi juga memberi nasihat kepada Lesmana agar belajar dari kejadian ini.


“Kita semua harus menjaga cara berkomunikasi, apalagi di ruang publik. Perkataan bisa berdampak besar,” kata Holmen. Ia pun menyampaikan terima kasih kepada Lurah Junaedi yang memfasilitasi pertemuan tersebut.


Di sisi lain meja, Syamsul, tokoh masyarakat Madura Karawang, menerima permintaan maaf itu dengan penuh ketenangan. Baginya, insiden ini tidak boleh menjadi bara yang membakar hubungan antarkomunitas yang selama ini hidup berdampingan dengan baik.


“Kami menerima permintaan maaf saudara Lesmana Saragih. Semoga ini jadi hikmah. Kita saling mengingatkan, saling menjaga ucapan, agar hubungan warga Madura dan Batak semakin kuat,” ujarnya.


Lurah Junaedi yang sejak awal memfasilitasi pertemuan tersebut menyampaikan harapan yang sederhana, namun bermakna: Karawang harus tetap kondusif. Baginya, pertemuan hari itu adalah bukti bahwa penyelesaian masalah tidak selalu harus keras, kadang cukup dengan duduk bersama dan berbicara dari hati.


"Silaturahmi seperti ini penting. Kita ingin warga Madura dan Batak semakin dekat, saling menjaga dan bersama-sama membangun Karawang yang kondusif.”


Sore bergeser menjadi malam, namun percakapan hangat tak kunjung padam. Di ruang tamu sederhana itu, dua komunitas besar kembali menyadari satu hal: bahwa perbedaan suku bukan tembok pemisah, melainkan warna yang memperkaya kehidupan bersama.


Dan dari pertemuan itulah, Karawang mendapatkan secercah harapan, bahwa kerenggangan bisa dipulihkan dan silaturahmi bisa dirajut kembali, selama masih ada ruang untuk saling mendengar dan memaafkan. (RJH)

0 Komentar

© Copyright 2023 - Azzamtv Jabar