Jurnalis dan Editor: Johar Hasibuan
Azzamtvjabar.com | Karawang - Sebuah video viral yang memperlihatkan dugaan penolakan pasien di RSUD Karawang menuai perhatian publik. Pihak rumah sakit pun memberikan klarifikasi terkait kronologi kejadian tersebut.
Seorang ibu bersama bayinya berusia empat bulan berinisial MZP diduga mendapat penolakan saat hendak berobat ke RSUD Karawang, Jawa Barat. Insiden tersebut terekam dalam video amatir yang terjadi pada Minggu malam, 3 Mei 2026.
Dalam narasi video, ibu dari bayi tersebut mengaku ditolak oleh pihak rumah sakit meskipun telah membawa rujukan untuk menjalani pengobatan. Bayi tersebut diketahui mengalami sesak napas.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Karawang, dr. MHD Parlindungan, menyampaikan bahwa pihaknya menyayangkan munculnya video viral tersebut.
Pihak rumah sakit mengungkapkan, saat kejadian Instalasi Gawat Darurat atau IGD tengah mengalami lonjakan pasien, yang seharusnya melayani sekitar 30 pasien, saat itu menangani hingga 50 pasien.
Lonjakan tersebut membuat kapasitas layanan mencapai 100 hingga 200 persen dari kemampuan normal. Kondisi ini dinilai berpotensi memengaruhi mutu pelayanan dan keselamatan pasien.
Pihak RSUD juga menegaskan tidak menginginkan kejadian tersebut terjadi dan menyatakan turut prihatin. Berdasarkan informasi petugas, kondisi pasien saat itu disebut masih relatif stabil.
Terkait dugaan pengusiran pasien, pihak RSUD menjelaskan bahwa dokter spesialis sempat melihat kondisi pasien di tengah situasi IGD yang padat. Dan karena kondisi IGD yang sangat padat serta pasien tampak relatif tenang, disarankan untuk ke rumah sakit lain.
Kejadian ini menjadi bahan evaluasi bagi manajemen rumah sakit untuk memperbaiki sistem pelayanan kesehatan, khususnya dalam mekanisme rujukan pasien.
Masyarakat pun diimbau untuk memperhatikan jarak serta tingkat kegawatdaruratan. Dalam kondisi darurat, pasien disarankan segera menuju fasilitas kesehatan terdekat guna mendapatkan penanganan cepat.
Pihak RSUD Karawang berharap kejadian ini menjadi pembelajaran bersama untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, serta memastikan penanganan pasien dapat dilakukan secara cepat dan tepat. (RJH)

0 Komentar