Jurnalis dan Editor: Johar Hasibuan
Azzamtvjabar.com | Karawang, Jawa Barat — Kondisi sarana dan prasarana SMP Negeri 3 Klari, Kabupaten Karawang, menjadi perhatian setelah sejumlah orang tua siswa mengeluhkan fasilitas sekolah yang dinilai sudah tidak layak dan mengalami kerusakan di beberapa bagian.
Keluhan tersebut disampaikan salah satu wali siswa yang rumahnya berada tidak jauh dari lingkungan sekolah. Menurutnya, kondisi sejumlah fasilitas pendidikan, mulai dari ruang kelas hingga sarana penunjang lainnya, perlu mendapat perhatian agar proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan aman dan nyaman.
Kekhawatiran tersebut menjadi penting mengingat fasilitas sekolah merupakan salah satu faktor yang mendukung kualitas dan kenyamanan proses pendidikan bagi peserta didik.
Saat dikonfirmasi, Kepala SMP Negeri 3 Klari, Muslih Hidayat, yang baru menjabat, membenarkan adanya sejumlah persoalan sarana dan prasarana di sekolah.
Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan dengan keterbatasan anggaran operasional, kondisi beberapa ruang kelas yang membutuhkan perbaikan, serta jumlah peserta didik yang terus meningkat sementara kapasitas fasilitas belum sepenuhnya mampu mengimbanginya.
Salah satu persoalan yang dihadapi adalah kondisi bangunan lama yang mengalami kerusakan. Pihak sekolah menyebut terdapat bagian bangunan yang membutuhkan penanganan lebih serius, sementara penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah atau BOS memiliki ketentuan dan batasan dalam penggunaannya.
Keterbatasan ruang belajar juga menjadi persoalan lain. Dalam proses Sistem Penerimaan Murid Baru atau SPMB, pihak sekolah menyayangkan adanya calon peserta didik yang belum dapat diterima karena keterbatasan ruang kelas.
Pertambahan jumlah siswa juga berdampak terhadap ketersediaan mebeler. Kondisi tersebut membuat sebagian peserta didik harus mengikuti kegiatan belajar dengan fasilitas yang masih terbatas.
Tidak hanya bangunan dan ruang kelas, sekolah juga membutuhkan penguatan fasilitas penunjang pembelajaran berbasis digital. Di antaranya laboratorium komputer, jaringan internet, serta perangkat seperti proyektor yang dibutuhkan untuk mendukung proses pembelajaran dan pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer atau ANBK.
Kondisi ini menjadi perhatian karena perkembangan sistem pendidikan menuntut sekolah tidak hanya memiliki ruang belajar yang layak, tetapi juga fasilitas penunjang yang mampu mendukung proses pembelajaran berbasis teknologi.
Di sisi lain, sekolah tentu memiliki keterbatasan dalam menangani seluruh kebutuhan tersebut apabila hanya mengandalkan anggaran operasional yang tersedia.
Karena itu, kondisi SMP Negeri 3 Klari menjadi perhatian bersama antara pemerintah daerah, Dinas Pendidikan, pihak sekolah, dan masyarakat. Pemerintah diharapkan dapat melihat langsung kebutuhan sekolah serta menentukan skala prioritas penanganan, terutama terhadap bangunan yang membutuhkan perbaikan dan fasilitas yang berkaitan langsung dengan keselamatan serta proses belajar siswa.
Persoalan ini juga menjadi pengingat bahwa pemerataan kualitas pendidikan tidak cukup hanya dengan meningkatkan jumlah peserta didik. Pertambahan siswa harus diikuti dengan ketersediaan ruang kelas, mebeler, infrastruktur dasar, serta fasilitas pembelajaran yang memadai.
Orang tua siswa tentu berharap persoalan sarana dan prasarana tersebut dapat segera mendapatkan perhatian dan solusi. Sebab, ruang belajar yang aman dan nyaman bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan bagian penting dari pemenuhan hak peserta didik untuk memperoleh layanan pendidikan yang layak.
Publik pun menunggu langkah konkret pemerintah daerah dan instansi terkait untuk memastikan kondisi sarana pendidikan di SMP Negeri 3 Klari mendapat penanganan sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku. (RJH)

0 Komentar